Tiga Puluh Dua: Banyak Angka, Banyak Berkah

 

Melewati usia 30an bagi sebagian orang mungkin sedikit menakutkan. Ya, tentu, semakin bertambah usia, semakin berkurang kesempatan hidup di dunia. Belum lagi alasan klasik lainnya, seperti tak lagi muda atau kerutan yang mulai terlihat di sudut mata.  Angka ini kerap digambarkan sebagai momok bagi mereka yang masih setia melajang, khususnya untuk kaum wanita. Ah, ada-ada saja..

Ulang tahun sebenarnya tak ubahnya seperti hari biasa bagi saya. Tak ada perayaan khusus seperti potong kue atau ritual lainnya. Yah.. setidaknya di usia yang matang ini. Berbeda dengan sewaktu masih sekolah, meski dulu saya juga jarang sekali merayakannya kalau bukan teman-teman yang berinisiatif memberikan kejutan kue ulang tahun hingga membuat saya berkaca-kaca, melumuri kepala dengan tepung dan telur, sampai membopong dan menceburkan saya ke kolam Tugu. Paling-paling saya hanya mentraktir beberapa teman dekat ke warung Warna Warni di depan stasiun.

Semakin bertambah usia, saya semakin tak suka merayakan ulang tahun. Entah, rasanya malu kalau harus dirayakan. Bukan karena ketahuan umurnya, hanya saja saya suka kikuk kalau harus meniup lilin dan menyaksikan orang-orang yang dengan gegap gempita mengucapkan selamat. Ah, mungkin saya hanya tak suka dengan sorotan, haha..

Belakangan saya suka menjadikan hari ulang tahun sebagai deadline sesuatu. Misal, novel yang terbengkalai selama bertahun-tahun harus selesai dan sudah dijilid tepat di tanggal 12 Mei. Meski akhirnya deadline tak pernah tercapai sampai saat ini. 😀

Berhubung pingin banget punya kamera Fuji Instax, jadi foto-foto di postingan ini dibuat ala-ala foto dari kamera instan, hihi..

Hadiah tahun ini, pulpen nanas 18 ribuan. Yay!

Dua tahun terakhir saya menghabiskan waktu sendiri di hari atau bulan ulang tahun dengan melakukan perjalanan. Saya menganggapnya sebagai hadiah untuk diri sendiri. Tahun 2015 lalu ketika ada rejeki lebih saya mengunjungi Penang. Tahun berikutnya lebih dekat, ke Semarang dan Jepara. Tahun ini jauh lebih dekat lagi, di rumah saja, haha..

Sebenarnya ingin juga kembali ke “jalan”, tapi di akhir tahun nanti saya sudah berencana mengunjungi suatu tempat, kalau ada rejeki. Lagipula awal Agustus nanti juga meetup dengan teman dari Jepang yang kebetulan akan berlibur ke Indonesia. Jadi, ya, ulang tahun kali ini di rumah saja, mengambil hari libur dan menghabiskan waktu dengan sederhana. Tak lupa matikan koneksi internet dulu agar lebih khusyuk menikmati waktu. 🙂

Berbekal ingatan masa kecil, kaki melangkah menyusuri jalan sempit perkampungan. Di sisi kiri mengalir parit berukuran cukup besar. Sayang, banyak sampah yang mengapung di atas alirannya. Dulu semasa kecil saya kerap melewati jalan ini bersama mbah putri kalau hendak ke pasar. Sekarang saya ingin kembali mengulangnya meski hanya  berjalan sendiri.

Tak berapa lama berjalan, saya dipertemukan dengan hamparan sawah berlatar gunung di belakangnya. Berkas sinar mentari menerobos dedaunan di sisi kanan. Beberapa kali saya berpapasan dengan anak-anak berseragam pramuka yang hendak berangkat sekolah. Bola mata saya berpendaran ke sisi kiri, beberapa kuntum bunga berwarna ungu tampak menggoda ingin dipetik. Dan berakhirlah ia di tangan saya, sebelum masuk ke halaman buku selama 2-3 minggu ke depan.

Kucing kecil di deket pasar

Hanya sebentar saya menghabiskan waktu di pasar, sekedar membeli setengah kilo apel, selada keriting, dan jagung. Sedang malas membawa banyak barang, karena pulangnya juga berjalan kaki. Sengaja saya memilih rute yang berbeda ketika pulang, ingin melihat rumah mungil dengan sedikit sentuhan kolonial yang dulu sering saya lewati. Sayang, rumah klasik itu kini berpagar, jadi tak leluasa memandanginya.

Meski rute ini melewati pinggiran rel, tapi sebelumnya saya tak pernah sekalipun berpapasan dengan kereta api. Mungkin ia tahu kalau hari ini saya berulang tahun dan sengaja lewat ketika saya sedang berdiri di pinggir rel. Seperti bocah ingusan, senyum saya mengembang ketika kereta melaju perlahan di samping tempat saya berdiri. Rasanya ingin loncat sambil bersorak-sorak. Ya, bahagia saya memang receh sekali. 😀

Melanjutkan bahagia receh. Sepulang dari pasar, setelah mandi dan sarapan, saya bersiap dengan gunting dan buku, mengenakan baju “tercantik” seperti anak kecil, menyusuri kampung dan jalan-jalan demi menemukan bunga liar yang elok. Satu, dua, tiga, semua bunga masuk dalam halaman buku untuk saya bawa pulang. Sungguh, rasanya seperti mengulang masa kecil. Berjalan tanpa arah pasti, mencari bunga-bunga cantik bersama teman sepermainan. Bedanya kali ini saya seorang diri dan sudah dewasa.

Coklat panas, sandwich telur, apel & pisang

Papasan sama mereka waktu lagi nyari bunga.

Untuk apa bunga-bunga itu? Ah, ya.. saya sedang mencoba membuat pressed flower, bunga kering. Karena tidak ada alat press, saya memilih cara klasik dengan menyimpannya di dalam buku. Semoga hasilnya oke. 🙂

Ulang tahun memang identik dengan perayaan, meniup lilin, memotong kue, atau bersenang-senang. Meski sebenarnya sama saja dengan hari-hari biasa, tak ada salahnya untuk kembali menghitung berkah di hari ini. Tentu, kamu tidak akan bisa menghitung karena jumlahnya yang terlampau banyak. Saya bersyukur sekali, di usia yang semakin bertambah ini Tuhan masih memberikan kesempatan pada saya untuk mencoba banyak hal baru, dikelilingi orang-orang yang menyenangkan, dianugerahi kesehatan, dan rejeki yang tak putus meski kadang di akhir bulan suka megap-megap. 😆

Dan untuk merayakannya (kalau boleh disebut merayakan), saya akan mengadakan giveaway. Oke.. saya bukan artis atau selebgram, sih.. Agak aneh juga kalo’ bikin giveaway, haha.. Tapi nggak apa lah, ya.. Just for fun, sekedar berbagi kebahagiaan. Giftnya gak besar, sih, tapi barang-barang handmade yang mungkin nggak ada duanya di luar sana *uhuk hahaha..

Caranya gampang, kok. Nggak aneh-aneh, nggak perlu follow ini-itu. Detil menyusul, ya.. Yang penting sekarang jangan lupa bahagia dan bersyukur dulu. 😉

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Puluh Dua: Banyak Angka, Banyak Berkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s